MAN1 Parepare “Sulap” Kantong Kresek jadi Baju Bodo

Kementerian Agama Kota Parepare, memeriahkan sampena Hari jadi Kota Parepare ke 61 tahun, pegawai dan guru mengenakan pakaian adat tradisional, baju bodo.

Guru dan staf MAN 1 Plus Keterampilan, mengenakan baju bodo rancangan anak didiknya yang terbuat dari bahan daur ulang, kantong plastik kresek.

Mereka mengenakan kostum itu terlihat unik dan cantik. Lalu mereka berfoto dengan latar belakang taman di MAN 1 Kota Parepare.

Terlihat Kepala Tata Usaha MAN 1 Parepare, Suhuriah bersama guru senior, mengenakan bajo bodo karya anak didik MAN 1, melalui program keterampilan tata busana.

Baju bodo dirancang khusus layaknya baju adat modern, terlihat serasi dengan ornamen baju pengantin dengan warna hijau cerah.

Bahan yang digunakan berasal dari olahan plastik yang biasa digunakan belanja di swalayan.

Kepala MAN 1 Kota Parepare, Syaiful Mahsan, mengaku, sekolahnya memiliki sejumlah produk hasil inovasi dari handmade dari bahan daur ulang yang ramah lingkungan.

“Program ini membantu mendaur ulang limbah untuk menjaga keseimbangan lingkungan,” katanya.

Rancangan anak didik bersama guru itu tergabung dalam program keterampilan, salah satunya baju bodo dari plastik kresek itu.

“Saya berharap karya dan desain anak didik kami. dapat menginspirasi anak didik kita di madrasah lainnya,” katanya.

Histori Baju Bodo
Indonesia sangat kaya dengan budaya dan tradisi, salah satunya baju bodo, pakaian adat suku Bugis-Makassar ini salah satu busana tertua di dunia.

Kain bahan dasar baju bodo terkenal di dunia sejak zaman dulu. Bangsa Eropa menyebut kain muslin, Yunani Kuno menyebut Maisolos, Masalia (India Timur), atau Ruhm (Arab).

Kain bahan dasar baju bodo pertama kali diperdagangkan di Kota Dhaka, Bangladesh, sesuai catatan pedagang Arab bernama Sulaiman pada abad ke-19.

Pada tahun 1298, dalam buku yang berjudul “The Travel of Marco Polo”, Marco Polo menggambarkan kain Muslin dibuat di Mosul (Irak) dan diperdagangkan pedagang yang disebut Musolini.

Tapi, kain yang ditenun dari pilihan kapas yang dijalin dengan benang katun ini sudah lebih dahulu dikenal masyarakat Sulawesi Selatan, yakni abad ke-9.

Sedangkan masyarakat Eropa baru mengenalnya pada abad ke-17, dan populer di Perancis pada abad ke-18.

Kain Muslin memiliki rongga-rongga dan jarak benang-benangnya yang renggang membuatnya terlihat transparan dan cocok dipakai di daerah tropis dan daerah beriklim panas.

Dikutip indonesikaya.com, dahulu baju bodo dipakai tanpa baju dalaman dan dipadukan dengan sarung yang menutupi bagian pinggang ke bawah badan.

Tapi, seiring masuknya pengaruh Islam, baju yang tadinya memperlihatkan aurat pun mengalami perubahan.

Busana transparan ini kemudian dipadukan dengan baju dalaman berwarna sama, namun lebih terang.

Sedangkan busana bagian bawahnya berupa sarung sutera berwarna senada.

Baju Bodo memang pakaian tradisional khusus untuk perempuan yang dalam penggunaannya memiliki aturan berdasarkan warna yang melambangkan tingkat usia dan kasta perempuan pemakainya.

Warna jingga untuk perempuan berusia 10 tahun, jingga dan merah darah untuk perempuan berusia 10 sampai 14 tahun, merah darah untuk perempuan berusia 17 sampai 25 tahun, warna putih dipakai para inang dan dukun, warna hijau khusus dipakai para puteri bangsawan, dan lainya.

Pakaian tradisional ini sering dipakai untuk acara adat, seperti upacara pernikahan. Tetapi sekarang, penggunaan baju bodo mulai meluas untuk berbagai kegiatan, misalnya lomba menari atau upacara penyambutan tamu-tamu kehormatan.i tanah Bugis, baju bodo masih dikenakan  pengantin perempuan saat upacara akad nikah dan resepsi pernikahan, begitu juga dengan ibu pengantin, pendamping mempelai, dan para pagar ayu di sebuah event kebudayaan. (*)

__Terbit pada
19 Februari 2021
__Kategori
Culture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *