Mappatabe Eratkan Keakraban Bermasyarakat

Badannya ia bungkukkan, tangan kanan diluruskan ke bawah mendekati lantai, sambil berjalan dengan pelan melewati orang duduk berjejer.

“Tabe’, tabe’, tabe’ Puang,” kata seorang anak saat berjalan membungkuk di depan Tuan Guru saat duduk di rumah sohibnya.

Tuan kagum melihat anak itu, tapi ia tak ingin membahas siapa anak itu yang telah mencontohkan sikap santun di hadapan orang yang lebih tua.

Tuan Guru bersyukur masih ada orang tua mendidik anaknya budaya Mappatabe’ budaya leluhur orang Bugis-Makassar.

Bagi Tuan Guru ritual budaya tabe’ yang dipergakan anak tadi adalah minta izin atau permisi untuk melewati arah orang lain yang sedang duduk atau berdiri.

Ritual tabe ini dilakukan sambil memberikan senyuman, saat berjalan sambil sedikit membungkukan badan dan meluruskan tangan di samping lutut, sambil berjalan.

Budaya tabe’ bukan hanya saat kita berjalan di depan orang duduk atau berdiri. Tapi, saat memulai berbicara dengan seseorang.

Apa makna tabe’ Tuan Guru menjelajahi dunia maya tanpa sekat itu. Mappatabe’ itu penghormatan kepada orang lain.

Tuan Guru tertarik sebuah makalah bertema Budaya Tabe, yang ditulis Asriani, S.Pd, Guru SMPN 2 Watansoppeng, dimuat breakingsulsel.co.id.

Tuan Guru membaca makalah itu hingga tuntas, diksi tabe’ sebuah simbol dari tata cara menghargai dan menghormati siapapun di hadapan kita.

Kata tabe’ sederhana dan simpel, tapi mengajarkan kita sesuatu luar biasa. Kita tidak boleh berbuat semau hati kita kepada orang lain.

Budaya tabe’ tata krama dan nilai bagi masyarakat Bugis-Makassar.

Selain itu, Mappatabe mengasa rasa keakraban, meski kita tidak pernah bertemu atau tidak saling kenal.

Melewati orang lain yang sedang duduk sejajar tanpa sikap tabe’ maka yang bersangkutan akan dianggap tidak mengerti adat sopan santun atau tata krama.

Bila yang melakukannya adalah anak-anak atau masih muda, maka orang tuanya akan dianggap tidak mengajari anaknya sopan santun.

Nilai yang terkandung dalam budaya tabe adalah, sipakatau (tidak membeda-bedakan semua orang), sipakalebbi (saling menghormati), sipakainge (saling mengingatkan).(*)

__Terbit pada
18 Februari 2021
__Kategori
Culture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.