Oh Daring

Ilustrasi |Foto: tirto.id

Jumat pagi, 12 Februari 2020, Tuan Guru mengevaluasi anak didiknya, selama semester genap.Tuan guru mulai mengecek kehadiran dan perkembangan anak didiknya setelah 40 hari mengikuti pengajaran via daring atau online.

Semester ini Tuan Guru mengajar 150 anak di lima rombel. Tuan Guru menghubungi satu persatu orang tua dan anak didik yang jarang mengikuti pengajaran jarak jauh via telepon seluler.

Sejumlah orang tua dan anak didik tidak merespon dengan baik. Ada yang tak angkat telepon, mungkin lagi sibuk atau masih tidur, ada memberikan jawaban seadanya.

“Halo, assalamualaikum, tabe (maaf) saya wali kelas anak Ibu,” kata Tuan Guru saat menelepon anak didiknya.

“Waalaikumussalam, iye Pak, kenapa anak saya Pak,” tanyanya.

Tuan Guru ceritakan, perkembangan anak didiknya selama pembelajaran daring. Mendengar penjelasan Tuan Guru, orang tua itu balik mengeluh, mengenai perilaku anaknya selama belajar dari rumah.

“Dia mulai malas belajar Pak, terkadang saya marah jika tak mengerjakan tugas dari gurunya,” katanya.

Tuan Guru meminta agar bicara dengan sang anak, ternyata anaknya masih tidur. Tuan Guru menunggu selama lima menit agar bisa bicara dengan anak didiknya.

“Halo, assalamualaikum,” kata Tuan Guru. “Walaikumussalam,” jawab anak didik.

“Bagaimana kabarnya, sehat,” tanya Tuan Guru. “Iye, baik,” jawabnya.

Tuan guru menasihatinya, tapi sang anak didik tidak merespon dengan baik.

“Kenapa jarang masuk room belajar,” tanya Tuan Guru.”Saya tidak tahu,” jawabnya.

Akhirnya Tuan Guru menutup pembicaraaan dengan anak didiknya. Kondisi kurang memungkinkan.

Tuan Guru menghubungi orang tua lainnya. Informasi didapat Tuan Guru, anak satu ini, tidak memiliki telepon seluler.

Saat dihubungi via telepon, orang tuanya tidak mengetahui perkembangan anaknya. Ketika Tuan Guru menanyakan kondisi anaknya. Dia tak tahu apa-apa.

“Eh, sini ini gurumu menelpon,” katanya sambil memberikan telepon genggam ke anaknya.

Sang anak bercerita, ia mengaku jarang masuk room belajar karena tak punya kuota internet.

“Tidak ada kuotaku Pak.Nanti saya beli,” katanya.

Setelah menasihati anak didiknya, Tuan Guru berdiskusi dengan teman sejawat.Tuan Guru akan mendatangi rumah anak didiknya tak memiliki akses internet.

Setelah didata dari 40 anak didik yang jarang masuk room belajar, sebanyak empat orang yang tidak memiliki smartphone.

“Mereka keluarga tak mampu. Dua diantaranya belajar bersama dengan anak didik lainnya,” kata sohib Tuan Guru.

Tugas-tugas yang diberikan guru dikirim ke Tuan Guru. Tuan Guru akan distribusi ke guru mata pelajaran lainnya.

Hem, masalah sedikit teratasi. Sementara 36 anak didik lainnya memiliki smartphone, tapi jarang masuk room belajar, google classroom dan aplikasi Whatshapp akan dibina masing-masing wali kelas.

“Mereka sudah bosan belajar via daring. Bisa dibayangkan sudah setahun mereka dirumahkan,” kata Tuan Guru. (*)

__Terbit pada
12 Februari 2021
__Kategori
News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.