Belajar Daring

 

Pagi ini, pengajaran jarak jauh, cenderung kaku. Proses pembelajaran tanpa interaksi antara guru dan anak didik.

Sebelum mulai pengajaran, seorang guru Bahasa Indonesia, mencoba memancing siswa agar mengikuti diskusi via grup Whatshapp dan Google Classroom.

Tapi, tak mendapat respon dari anak didik. Sang guru sibuk sendiri menyiapkan bahan ajar, tapi dari jauh tak mendapat tanggapan, seperti bertepuk sebelah tangan.

Pembelajaran daring, bukan pembelajaran darling. Tak ada tatap muka, demi memutus penyebaran wabah Covid-19.

“Setelah belajar Penjas, sekarang, kita belajar bahasa Indonesia, yah Nak!”

Eemmm. Semoga hari ini lebih banyak yang aktif belajar di room dibandingkan kemarin.

Sebelum lanjut, Ibu mau tanya nih. Apa yang kamu pelajari kemarin? Ayo jawab!!

“Yang jawab dapat bonus tambahan nilai untuk ulangan hariannya,” tulisnya dilengkapi emotion senyum.

Meyakinkan anak didik, guru menampilkan nilai tugas teks persuasi yang baru dua orang yang mengerjakan. Kedua anak itu mendapat nilai seratus.

Guru meminta anak didiknya
agar menyelesaikan tugasnya.

“Anak-anakku, karena tidak ada yang jawab. Ibu jawab sendiri. Jadi kemarin sudah masuk materi baru yaitu Teks Persuasi.”

Teks persuasi adalah teks yg berisi ajakan atau bujukan untuk memengaruhi, meyakinkan orang lain atau pembaca tentang isi dari teks tersebut yang didukung oleh ide, pendapat sesuai fakta

“Kalian pastinya sering membujuk atau mengajak orang untuk melakukan sesuatu?”

Saat guru sedang menjelaskan materi, tiba-tiba ada anak didik bertanya.”Pelajaran apa hari ini Bu.”

Sementara itu guru IPA juga memberikan materi di room belajar. Sebelum ia terangkan materinya via WA dan Google classroom, ia minta anak didiknya, membaca dan memahami materi itu.

Sambil diskusi dengan anak didiknya, salah satu siswa bingung. Anak itu, mencari soal atau tugas. Mungkin, terbiasa mengerjakan tugas setiap hari.

“Maaf Bu saya tidak mengerti mana soal yang mau dikerjakan,”tanyanya.

“Saya tak beri tugas Nak, saya hanya beri materi agar dibaca, dipahami, dan diamalkan,” jawab guru.

“Oh iye Bu,” jelasnya.
“Maaf Nak, saya guru laki-laki,” jawabnya. (*)

__Terbit pada
3 Februari 2021
__Kategori
News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.