“Ternoda”

Ilustrasi: indonesiainside.id

Selama satu semester ini saya berusaha maksimalkan perkuliahan jarak jauh. Perkuliahan via daring, interaksi mahasiswa dan dosen terbatas.

Banyak sekali hambatan selama kuliah jarak jauh, seperti jaringan internet lambat loading (lalod), tak ada kuota, tak ada jaringan di kampung, malas, dan lainnya.

Manajemen kampus tempat kami berbagi pengalaman dan pengetahuan, menyediakan aplikasi mendukung perkuliahan jarak jauh. Edlink.

Aplikasi ini memudahkan mahasiswa dan dosen berdiskusi, video conference untuk membantu mahasiswa belajar di tengah wabah Covid-19.

Aplikasi dilengkapi fitur canggih, seperti jadwal perkuliahan, forum grup akademik, kelas perkuliahan, dan online discussion.

Selain itu, mahasiswa bisa cek nilai, kartu rencana studi (KRS), kartu hasil studi (KHS), Transkrip Nilai tanpa ribet.

Edlink juga sudah terintegrasi dengan Siakad yang memiliki fitur absensi yang bisa digunakan dosen saat kuliah jarak jauh.

Kemudahan itu belum dimanfaatkan maksimal. Banyak mahasiwa yang cerdas, tapi tidak memanfaatkan aplikasi itu menyetor tugas dan diskusi.

Di akhir semester, banyak mahsiswa tidak lulus karena tidak menyetor tugasnya. Manajemen kampus berikan kesempatan perbaikan nilai.

Kebijakan perbaikan nilai sangat merepotkan dosen, pegawai, dan mahasiswa. Pegawai harus bekerja ekstra melayani mahasiswa ‘malas’ menyetor tugas agar mendapatkan nilai yang baik.

Itu tak masalah, tugas mereka melayani mahasiswa agar kelak menjadi generasi cerdas, berakhlak, dan bahagia di masa depan.

Ups… Saya tak mau berlama-lama dengan aplikasi itu. Saya ingin nulis ragam sikap dan prilaku mahasiswa setelah menerima hasil perkuliahan era pandemi.

Dosen itu manusia biasa, tidak bisa memuaskan semua mahasiswanya. Apalagi perkuliahan dari rumah atau work from home (WFH). Serba terbatas.

Saya pun mencoba “intip” status mahasiswa (i) setelah nilainya diumumkan via aplikasi Siakad, cerita mereka dituangkan melalui media sosial.

Berikut cerita mahasiswa yang saya rangkum di detik-detik akhir perbaikan nilai.

“Sepanjang masa perkuliahan
berjalan, saya bisa kelompokkan tiga kategori dosen berdasarkan metode
penilaian,” tulia sebuah status medsos mahasiswa.

“Pertama, dosen favorit. Dosen yang senang hati memberikan nilai bagus untuk semua anak didiknya.”

Kedua, dosen yang berikan
nilai sesuai kemampuan
anak didiknya. Kategori ini
dibedakan menjadi dua, yakni dosen dengan standar tinggi dan sedang.

Ketiga, kategori dosen paling susah, dosen yang
penilaiannya sulit ditebak. Tipe dosen ini saya sebut dengan penilaian random.

“Saya dan teman-teman
membayangkan dosen seperti ini menggunakan metode opyokan dalam menilai,
seperti dalam arisan.”

Status mahasiswa lainnya, lebih halus. Begini statusnya, bagi dosen, memberi nilai A atau B itu gampang.

Tapi akan jadi beban, jika kemampuan mahasiswa
tidak sesuai antara nilai di atas kertas dengan keilmuan dan tingkat produktifitas.

“Bagaimana kita pertanggungjawabkan nilai
selangit itu ketika
memasuki dunia kerja?”

“Nilai apapun itu, memang kemampuan dari dirimu, so jangan paksakan keinginan. Manusia kadang kurang bersyukur. Cenderung serakah.”

Ada juga mahasiswa yang upload semua nilai yang diraih semester ini di status media sosial miliknya.

Mahasiswa ini meraih nilai fantastis, hampir sempurna, dari sembilan mata kuliah diprogramkan, delapan mata kuliah raih nilai sempurna, A.

Hanya satu nilai B, dia menuliskan caption, “ternoda’ dan melingkari nilai B itu dengan warna kuning.

Ada juga mahasiswa (i) mengajak temannya agar santai saja selama berkuliah, jangan terlalu serius mengerjakan sesuatu.

“Karena yang menilai belum
tentu serius memeriksanya,” tulisnya di status media sosialnya.

Dosen dan mahasiswa mesti manfaatkan sumber daya yang ada, agar target dari kurikulum bisa dicapai dan menghasilkan alumni yang mampu bersaing di pasar kerja.

Kelak menjadi insan kamil yang berkarakter, sesuai tagline kampus malebbi werekkadana, makkiade ammpena. (sopan dalam berutur santun dalam berprilaku).

Seperti biasa, setelah nilai diumumkan, mahasiswa pamit dari grup Whatshapp, tempat berbagi informasi perkuliahan.

“Terima kasih Pak atas nasihat dan ilmunya selama satu semester. Saya izin keluar grup,” tulisnya dibubuhi emotion minta maaf. (*)

__Terbit pada
28 Januari 2021
__Kategori
Culture

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *