Menolak ‘Lapuk’ di Usia Senja

Pagi-pagi, saya disuruh ‘menghadap’ ibu mertua di rumahnya di bilangan Lumpue, Kota Parepare. Saya diminta buat sebuah tulisan bertema produktif di usia senja.

Nak besok, pagi-pagi ke rumah, buatkan Ibu tulisan,” katanya, saat berkunjung ke rumah.

Esok harinya, saya datang ke rumahnya. Saya belum duduk, dia langsung menyerahkan sebuah buku berwarna putih. Buku itu diterbitkan Gramedia.

“Ini buku, sila dibaca dulu, baru kita diskusi,” katanya, lalu melanjutkan menjahit baju desainnya sendiri.

Buku berjudul Menjadi Perempuan Sehat dan Produktif di Usia Senja ditulis Saparinah Saldi, saya baca selama satu jam.

Ibu mengajak diskusi, soal isi buku itu. Dia sudah membaca buku setebal 137 halaman itu. Diskusi ringan dimulai, mantan anggota DPRD Kota Parepare dua periode itu, mulai diskusi.

“Saat ini, masih banyak orang berusia 60an ke atas, relatif sehat, aktif dan produktif, terampil dan aktif di kegiatan sosial. Saya ingin berbagi tips sehat dan produktif. Banyak yang masih berperan dan aktif di ruang publik,” ujarnya.

Saya lebih banyak diam dan menjadi pendengar. Saya belum mengusai isi buku itu. Saya menyampaikan, banyak orang berusia senja , tapi bermanfaat bagi orang lain.

Meskipun dalam menjalani proses menua, di mana seseorang mengalami berbagai kemunduran fisik dan mental .

“Tapi, mereka ada yang tampil, sehat dan produktif, serta membantu orang banyak,” jawabku.

Bagi dia, “tampil sehat” dalam arti bisa dan mau pergi ke sana-ke mari secara mandiri. “Produktif” dalam arti masih mempunyai kesibukan di luar rumah dan melakukannya sesuai pilihan sehingga membawa kepuasan diri.

Ada yang menjadi inisiator pengumpulan dana untuk membantu anggota seorganisasi yang tidak kuat ekonominya atau ada yang tertimpa musibah.

Ia mengajak teman-teman seusianya untuk membantu orang-orang yang terkena musibah, seperti baru- baru ini ikut menggalang donasi bagi korban gempa.

Bagi mantan Komisioner KPU Kota Parepare itu, masih orang di usia senja melakukan
kegiatan profesionalnya sebagai dokter, konselor, pengajar, tenaga profesional, melatih warga mendapatkan keterampilan khusus, seperti menjahit, tari jeppeng.

Bersedia menjadi ketua di organisasi sosial. Suatu peran sosial yang menyita banyak waktu pikiran, dan tenaga. Ada yang menerapkan pengalaman, keterampilan yang dimilikinya secara berbeda. Misalnya sebagai pemerhati perempuan dan anak.

Di usia tuanya, kata dia, digunakan meningkatkan pengetahuan ibu kurang mampu di ingkungan tempat tinggalnya.

Biasanya mengombinasikan peran-perannya juga bekerja di ranah publik. Membantu mereka mendapatkan kesempatan agar produktif di usia lanjut dan memberi bantuan orang lain sekaligus menumbuhkan kepuasan baginya.(*)

__Terbit pada
25 Januari 2021
__Kategori
Culture, Lifestyle

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *